Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup Sekadar Angka
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan tidak boleh hanya diukur dari besarnya persentase angka. Lebih dari itu, pertumbuhan harus memiliki kualitas dan bersifat inklusif agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.
Hal tersebut disampaikan Purbaya saat menjadi keynote speaker dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.
Makna Ekonomi Berkualitas dan Inklusif
Purbaya menjelaskan bahwa ekonomi berkualitas berarti pertumbuhan yang tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Inklusivitas menjadi kunci agar hasil pembangunan tidak memicu kesenjangan sosial maupun ekonomi.
Dalam konteks ini, pertumbuhan harus mampu menyerap tenaga kerja produktif, meningkatkan pendapatan rumah tangga, serta mendorong pemerataan kesempatan ekonomi di berbagai daerah. Dengan demikian, stabilitas sosial dapat terjaga seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi nasional.
Stabilitas Fiskal sebagai Fondasi Utama
Salah satu penekanan utama Purbaya adalah pentingnya menjaga stabilitas fiskal. Menurutnya, tanpa fondasi fiskal yang kuat, pertumbuhan ekonomi berisiko rapuh dan mudah terguncang oleh tekanan eksternal.
Melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara belanja negara yang produktif dan pengelolaan anggaran yang prudent. Stabilitas fiskal ini dipandang sebagai jangkar utama dalam menjaga kepercayaan pasar dan dunia usaha.
Investasi Produktif dan Kolaborasi Lintas Sektor
Selain stabilitas fiskal, Purbaya menyoroti pentingnya investasi produktif. Investasi yang masuk ke sektor-sektor bernilai tambah tinggi dinilai mampu mendorong pertumbuhan jangka panjang sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Ia juga menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, swasta, dunia pendidikan, dan masyarakat—menjadi syarat mutlak. Tanpa kerja sama yang solid, kebijakan ekonomi akan sulit mencapai dampak maksimal di lapangan.
Peran Generasi Milenial dan Gen Z
Dalam paparannya, Purbaya secara khusus mengajak generasi milenial dan Gen Z untuk berperan aktif sebagai agen perubahan. Ia menilai generasi muda memiliki keunggulan dalam hal adaptasi teknologi, kreativitas, dan inovasi.
Melalui kewirausahaan, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan ide-ide baru, generasi muda diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi masa depan. Purbaya menilai bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi kekuatan jika diiringi peningkatan kualitas SDM.
Menjaga Keseimbangan Stabilitas dan Akselerasi
Purbaya menekankan pentingnya keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan akselerasi pembangunan. Menurutnya, akselerasi tanpa stabilitas berisiko menciptakan gejolak, sementara stabilitas tanpa akselerasi akan membuat ekonomi stagnan.
Oleh karena itu, kebijakan ekonomi harus dirancang secara hati-hati agar mampu menjaga kepercayaan pelaku usaha sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih cepat dan merata.
Target Pertumbuhan Menuju 6 Persen
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,6–5,7 persen pada triwulan keempat 2025. Target ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 ke kisaran 5,2 persen.
Menurut Purbaya, target tersebut realistis melihat berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan tren positif. Pemerintah pun optimistis bahwa dengan menjaga momentum, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mengarah ke enam persen pada 2026.
Indikator Ekonomi Tunjukkan Sinyal Positif
Purbaya menjelaskan bahwa sejumlah indikator ekonomi terkini menunjukkan perbaikan signifikan. Data penjualan ritel mencatat pertumbuhan tertinggi dalam dua tahun terakhir, sementara indeks kepercayaan konsumen juga terus meningkat.
Kondisi ini mencerminkan daya beli masyarakat yang mulai pulih dan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Menurut Purbaya, membaiknya indikator ekonomi juga berkontribusi dalam menekan potensi gangguan sosial dan politik.
Injeksi Likuiditas ke Sistem Perbankan
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah telah mengambil langkah strategis melalui injeksi likuiditas ke sistem perbankan. Total dana sebesar Rp276 triliun ditempatkan di bank guna memperkuat likuiditas dan mendorong penyaluran kredit.
Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan menekan suku bunga perbankan agar dunia usaha dan masyarakat lebih mudah mengakses pembiayaan. Dengan meningkatnya kredit, permintaan domestik diharapkan tumbuh lebih kuat.
Sinergi dengan Kebijakan Moneter
Kebijakan fiskal tersebut berjalan seiring dengan sinergi bersama Bank Indonesia. Koordinasi fiskal dan moneter dinilai krusial agar stimulus yang diberikan benar-benar efektif dan tidak menimbulkan tekanan inflasi berlebihan.
Purbaya menegaskan bahwa sinergi kebijakan ini menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global.
Bantuan Langsung Tunai untuk Jaga Daya Beli
Selain kebijakan likuiditas, pemerintah juga menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp300.000 per bulan selama tiga bulan kepada masyarakat kelompok Desil 1 hingga 4. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga daya beli kelompok rentan.
Purbaya meyakini bahwa menjaga konsumsi rumah tangga merupakan langkah penting karena konsumsi masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menjaga Momentum Pertumbuhan
Menurut Purbaya, tantangan terbesar bukan hanya menciptakan momentum pertumbuhan, tetapi juga memeliharanya secara berkelanjutan. Pemerintah berkomitmen untuk terus merawat momentum tersebut melalui kebijakan yang adaptif dan responsif.
Dengan fondasi fiskal yang kuat, investasi produktif, dan dukungan konsumsi masyarakat, ekonomi Indonesia diharapkan mampu tumbuh lebih cepat dan stabil.
Tantangan Global Tetap Harus Diwaspadai
Meski optimistis, Purbaya mengingatkan bahwa tantangan global tetap perlu diantisipasi. Ketegangan geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan arah kebijakan moneter global dapat memengaruhi kinerja ekonomi nasional.
Oleh karena itu, ketahanan ekonomi nasional harus terus diperkuat agar Indonesia tidak mudah terdampak guncangan eksternal.
Pertumbuhan Inklusif sebagai Tujuan Akhir
Pada akhirnya, Purbaya menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ekonomi adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan bermakna jika tidak diiringi pemerataan dan keadilan sosial.
Dengan menempatkan kualitas dan inklusivitas sebagai prinsip utama, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan adil.
Penutup
Pernyataan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan: pertumbuhan yang berkualitas, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Dengan stabilitas fiskal, investasi produktif, peran generasi muda, serta stimulus yang tepat sasaran, Indonesia optimistis mampu menjaga momentum dan mengarah ke pertumbuhan enam persen.
Tantangan global memang tidak ringan, namun dengan kebijakan yang solid dan kolaborasi lintas sektor, pertumbuhan ekonomi yang berdampak nyata bagi masyarakat bukanlah sekadar harapan, melainkan tujuan yang realistis untuk dicapai.
Baca Juga : BEAST 2025 Jakarta Dorong Kolaborasi Global Industri Kreatif
Cek Juga Artikel Dari Platform : kalbarnews

