Indonesia Masuki Fase Baru Kepemimpinan Global
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk memainkan peran lebih besar dalam kepemimpinan global seiring menguatnya momentum reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menyampaikan bahwa mulai 2026 Indonesia akan memegang sejumlah mandat strategis di berbagai forum multilateral penting.
Pernyataan tersebut disampaikan Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri yang digelar di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Jakarta. Menurutnya, peran-peran tersebut bukan sekadar simbol prestise diplomatik, melainkan tanggung jawab nyata untuk ikut membenahi tata kelola global yang dinilai semakin menghadapi tekanan dan tantangan kompleks.
Momentum Reformasi di Usia 80 Tahun PBB
Sugiono menilai bahwa dunia saat ini berada pada titik krusial bagi multilateralisme. PBB, yang akan memasuki usia 80 tahun, dihadapkan pada tuntutan besar untuk berbenah agar tetap relevan, responsif, dan berdampak nyata.
Indonesia, kata Sugiono, melihat momentum reformasi PBB sebagai peluang sekaligus tanggung jawab. Reformasi tidak boleh berhenti pada diskursus normatif, tetapi harus diterjemahkan menjadi perubahan konkret dalam cara PBB bekerja di lapangan.
“PBB harus lebih responsif, efisien, dan berdampak nyata,” tegas Sugiono, menekankan perlunya reformasi struktural dan operasional.
BPK RI Terpilih Jadi Dewan Auditor PBB
Salah satu mandat penting yang akan dijalankan Indonesia adalah terpilihnya Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia sebagai salah satu dari tiga anggota Dewan Auditor PBB untuk periode 2026–2032.
Menurut Sugiono, posisi ini sangat strategis karena berperan langsung dalam memastikan tata kelola keuangan PBB berjalan secara transparan, akuntabel, dan efisien. Penunjukan ini juga mencerminkan kepercayaan komunitas internasional terhadap kredibilitas dan profesionalisme institusi Indonesia.
Ia menegaskan bahwa peran BPK RI sejalan dengan agenda reformasi PBB, khususnya dalam memperkuat akuntabilitas lembaga internasional di mata negara-negara anggota.
Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB 2026
Selain mandat di bidang audit, Indonesia juga mencatatkan capaian penting dengan terpilih sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk tahun 2026. Mandat ini resmi diperoleh pada 8 Januari 2026.
Sugiono menekankan bahwa posisi tersebut akan dijalankan secara imparsial, transparan, dan konstruktif. Indonesia berkomitmen menjaga kredibilitas Dewan HAM sebagai forum dialog dan kerja sama, bukan arena konfrontasi politik.
Menurutnya, kepemimpinan Indonesia di Dewan HAM PBB harus mampu menjembatani berbagai kepentingan negara dengan tetap berpegang pada prinsip penghormatan HAM universal.
Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab dan Netral
Dalam menjalankan berbagai mandat internasional, Sugiono menegaskan bahwa Indonesia tidak akan membawa agenda sempit atau berpihak pada blok tertentu. Pendekatan netral dan konstruktif menjadi kunci agar Indonesia dapat berperan sebagai bridge builder di tengah polarisasi global.
Ia menilai kepemimpinan global bukan soal dominasi, melainkan kemampuan memfasilitasi dialog, membangun konsensus, dan mendorong solusi bersama atas masalah dunia.
Peran Indonesia dalam Rule Setting Global
Indonesia juga aktif dalam berbagai forum teknis internasional yang memiliki dampak langsung bagi kepentingan nasional. Sugiono mencontohkan keterlibatan Indonesia dalam perumusan standar keselamatan pelayaran di International Maritime Organization.
Selain itu, Indonesia turut mendorong penguatan konektivitas pos global melalui Universal Postal Union. Menurut Sugiono, kebijakan di forum ini memiliki implikasi nyata bagi UMKM dan sektor e-commerce nasional, terutama dalam efisiensi logistik lintas negara.
Multilateralisme yang Memberi Dampak Nyata
Sugiono menegaskan bahwa multilateralisme harus diukur dari dampaknya bagi masyarakat, bukan sekadar jumlah pertemuan atau resolusi. Oleh karena itu, Indonesia mendorong agar setiap proses rule setting global mempertimbangkan kepentingan negara berkembang.
Dalam konteks ini, Indonesia berupaya memastikan bahwa suara Global South tetap diperhitungkan dalam pembentukan norma dan standar internasional.
Apresiasi Peran Diplomasi Multilateral
Dalam kesempatan tersebut, Sugiono juga menyampaikan apresiasi kepada Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir atas perannya dalam mengawal diplomasi multilateral Indonesia.
Menurut Sugiono, penguatan posisi Indonesia dalam berbagai forum internasional tidak lepas dari kerja kolektif diplomasi yang konsisten dan terukur. Keberhasilan menempatkan Indonesia pada posisi strategis menjadi bukti bahwa multilateralisme masih dapat bekerja secara efektif.
Tantangan Besar Reformasi PBB
Meski optimistis, Sugiono tidak menutup mata terhadap tantangan besar yang dihadapi PBB. Reformasi sering kali terhambat oleh kepentingan politik negara-negara besar dan kompleksitas birokrasi internal.
Indonesia, kata Sugiono, memandang tantangan tersebut sebagai alasan untuk lebih aktif terlibat, bukan menarik diri. Dengan keterlibatan aktif, Indonesia berharap dapat mendorong reformasi yang realistis dan berorientasi pada hasil.
Indonesia Kembali Maju ke DK PBB
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Indonesia kembali mencalonkan diri sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029–2030.
Sugiono menegaskan bahwa pencalonan ini bukan semata demi prestise, melainkan untuk memastikan sistem multilateral tetap berfungsi di tengah meningkatnya konflik dan ketegangan global. Indonesia ingin berkontribusi langsung dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
Bebas Aktif dalam Kepemimpinan Global
Langkah Indonesia ini dinilai sejalan dengan prinsip politik luar negeri Bebas Aktif. Indonesia tidak memposisikan diri sebagai pengikut kekuatan besar, tetapi sebagai aktor independen yang aktif membangun solusi bersama.
Dengan mandat kepemimpinan yang semakin luas, Indonesia berupaya menunjukkan bahwa negara berkembang juga mampu mengambil peran strategis dalam tata kelola global.
Harapan terhadap Peran Indonesia ke Depan
Ke depan, peran Indonesia di berbagai forum multilateral diharapkan tidak hanya memperkuat posisi diplomatik, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi pembangunan nasional. Penguatan tata kelola global, stabilitas internasional, dan konektivitas ekonomi diharapkan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Sugiono menegaskan bahwa kepemimpinan global harus selalu berpijak pada kepentingan rakyat dan nilai kemanusiaan.
Penutup
Pernyataan Menlu Sugiono menandai fase baru diplomasi Indonesia: lebih aktif, strategis, dan berorientasi pada reformasi global. Dengan mandat di Dewan Auditor PBB, kepemimpinan di Dewan HAM, serta pencalonan di Dewan Keamanan PBB, Indonesia menegaskan kesiapannya menjalankan tanggung jawab global.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia berupaya membuktikan bahwa multilateralisme masih relevan dan dapat diperbaiki. Melalui kepemimpinan yang netral, konstruktif, dan berdampak nyata, Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi global, bukan sekadar penonton dalam dinamika internasional.
Baca Juga : 24 Desa di Aceh Masih Terisolasi Akibat Banjir dan Longsor
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritabumi

