rumahjurnal.online Masyarakat Indonesia dikejutkan oleh kasus tragis yang melibatkan seorang siswi sekolah dasar berinisial AI di Medan. Anak berusia 12 tahun tersebut diduga melakukan tindakan kekerasan hingga merenggut nyawa ibu kandungnya sendiri. Fakta yang semakin menimbulkan keprihatinan adalah dugaan bahwa perilaku tersebut terinspirasi dari konten digital, termasuk game online dan serial anime yang dikonsumsi tanpa pengawasan memadai.
Peristiwa ini memicu diskusi luas di tengah masyarakat mengenai dampak konsumsi konten digital terhadap anak-anak. Di era teknologi yang semakin terbuka, anak-anak memiliki akses nyaris tanpa batas terhadap berbagai jenis hiburan digital, mulai dari permainan daring hingga tayangan visual dengan beragam tema.
Kasus ini dinilai bukan sekadar persoalan kriminal, tetapi juga alarm serius bagi orang tua, pemerintah, dan penyedia platform digital.
Sorotan Keras dari Komisi I DPR RI
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan bahwa peristiwa tersebut harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Menurutnya, konsumsi digital anak-anak tidak bisa dibiarkan tanpa pendampingan dan pengawasan yang ketat.
Dave menilai bahwa konten hiburan seperti game online dan anime pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Namun, ketika dikonsumsi secara berlebihan dan tanpa bimbingan orang dewasa, konten tersebut dapat disalahartikan oleh anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan psikologis dan emosional.
Ia menekankan bahwa anak belum memiliki kemampuan penuh untuk membedakan antara realitas dan fiksi, sehingga berisiko meniru perilaku ekstrem yang mereka lihat.
Tantangan Pengasuhan di Era Digital
Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola pengasuhan secara signifikan. Gawai dan internet kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak, baik untuk hiburan maupun pendidikan. Di satu sisi, teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan besar.
Banyak orang tua menghadapi kesulitan dalam mengawasi konten yang diakses anak, terutama ketika aktivitas digital dilakukan secara personal melalui ponsel atau tablet. Tanpa kontrol yang jelas, anak dapat terpapar konten yang tidak sesuai dengan usia dan tingkat kematangan mereka.
Kasus di Medan menunjukkan bagaimana kurangnya pengawasan dapat berdampak fatal. Anak yang seharusnya mendapatkan bimbingan emosional justru menyerap narasi kekerasan tanpa filter yang memadai.
Peran Orang Tua dalam Pendampingan Anak
Dave Laksono menegaskan bahwa peran orang tua menjadi kunci utama dalam mencegah dampak negatif konten digital. Pendampingan tidak hanya sebatas melarang, tetapi juga memahami apa yang dikonsumsi anak dan bagaimana mereka memaknainya.
Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak mengenai apa yang mereka tonton dan mainkan. Dengan demikian, anak dapat diarahkan untuk memahami bahwa konten hiburan tidak selalu mencerminkan nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pendampingan yang aktif juga membantu orang tua mengenali perubahan perilaku anak sejak dini, sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan.
Tanggung Jawab Platform Digital
Selain peran keluarga, Dave juga menyoroti tanggung jawab platform digital. Penyedia game online, layanan streaming, dan platform hiburan lainnya dinilai perlu memperkuat sistem pengawasan dan klasifikasi usia.
Fitur pembatasan usia, kontrol orang tua, serta kurasi konten harus benar-benar diterapkan secara efektif, bukan sekadar formalitas. Platform juga diharapkan lebih proaktif dalam mencegah anak mengakses konten yang mengandung kekerasan ekstrem atau narasi yang tidak sesuai.
Dalam konteks ini, regulasi pemerintah menjadi penting untuk memastikan platform mematuhi standar perlindungan anak.
Perlunya Kolaborasi Multi-Pihak
Kasus ini menunjukkan bahwa pengawasan konten digital tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara orang tua, sekolah, pemerintah, dan penyedia platform digital.
Sekolah dapat berperan dengan memberikan edukasi literasi digital kepada siswa dan orang tua. Pemerintah dapat memperkuat regulasi serta pengawasan terhadap industri digital. Sementara itu, platform harus bertanggung jawab atas dampak produk mereka terhadap pengguna anak.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan ramah anak.
Dampak Psikologis Konten Kekerasan
Para ahli psikologi anak menilai bahwa paparan konten kekerasan dalam jangka panjang dapat memengaruhi cara berpikir dan berperilaku anak. Anak yang sering terpapar narasi kekerasan berisiko mengalami desensitisasi, yaitu berkurangnya empati terhadap penderitaan orang lain.
Dalam kondisi tertentu, anak bisa menganggap kekerasan sebagai solusi atas masalah. Hal ini menjadi sangat berbahaya ketika tidak ada pendampingan yang membantu anak memahami konteks dan konsekuensi nyata dari tindakan tersebut.
Kasus di Medan memperlihatkan bagaimana kombinasi faktor psikologis, lingkungan, dan paparan konten digital dapat berujung pada tragedi.
Evaluasi Kebijakan Perlindungan Anak
Dave Laksono mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan perlindungan anak di ruang digital. Menurutnya, regulasi yang ada perlu terus diperbarui agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Ia juga menekankan pentingnya penegakan aturan yang konsisten. Tanpa pengawasan dan sanksi yang tegas, regulasi hanya akan menjadi dokumen formal tanpa dampak nyata.
Evaluasi ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih adaptif dan responsif terhadap tantangan era digital.
Harapan ke Depan
Kasus tragis ini diharapkan menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih serius melindungi anak di ruang digital. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman untuk tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun mental.
Dave Laksono mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menyalahkan satu pihak, tetapi menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran bersama. Dengan pengawasan yang ketat, pendampingan yang tepat, dan regulasi yang kuat, risiko dampak negatif konten digital dapat diminimalkan.
Penutup
Kasus siswi di Medan yang diduga terinspirasi konten digital hingga melakukan tindakan ekstrem menjadi peringatan keras bagi bangsa ini. Komisi I DPR RI menegaskan bahwa pengawasan ketat terhadap konsumsi digital anak merupakan keharusan, bukan pilihan.
Peran orang tua, tanggung jawab platform, serta dukungan kebijakan pemerintah harus berjalan beriringan. Hanya dengan upaya bersama, ruang digital dapat menjadi tempat yang aman, edukatif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara sehat.

Cek Juga Artikel Dari Platform museros.site
