Dua Bulan Pascabencana, Akses Belum Pulih Sepenuhnya
Hingga Rabu, 14 Januari 2026, sebanyak 24 desa di Aceh Tengah masih berada dalam kondisi terisolasi akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi dua bulan lalu. Kerusakan parah pada infrastruktur jalan dan jembatan membuat akses darat menuju wilayah-wilayah tersebut belum dapat dilalui.
Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah dataran tinggi Aceh ini tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga memutus jalur penghubung antar kecamatan. Akibatnya, ribuan warga masih bergantung pada bantuan logistik dan upaya evakuasi terbatas dari pemerintah.
Sebaran Desa Terisolasi di Lima Kecamatan
Berdasarkan data lapangan, 24 desa yang masih terisolasi tersebar di lima kecamatan di Aceh Tengah. Rinciannya, satu desa berada di Kecamatan Bintang, sembilan desa di Kecamatan Ketol, dua desa di Kecamatan Silih Nara, lima desa di Kecamatan Rusip Antara, serta tujuh desa di Kecamatan Linge.
Khusus di Kecamatan Ketol, seluruh desa terdampak mengalami putus akses akibat jembatan utama yang roboh diterjang banjir bandang. Kondisi ini membuat wilayah tersebut menjadi salah satu daerah dengan dampak terberat.
Jalan dan Jembatan Putus Lumpuhkan Aktivitas Warga
Putusnya akses jalan dan jembatan tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi dan layanan dasar. Warga kesulitan membawa hasil pertanian keluar desa, sementara distribusi bahan pokok dan layanan kesehatan menjadi sangat terbatas.
Sebagian jalur yang terdampak merupakan jalan provinsi dan kabupaten, sementara lainnya adalah jalan desa yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk warga. Kerusakan terjadi akibat kombinasi longsor, gerusan air, dan runtuhnya badan jalan.
Lebih dari 10 Ribu Warga Masih Terisolasi
Pemerintah daerah mencatat sebanyak 10.914 jiwa hingga kini masih merasakan dampak keterisolasian. Warga di desa-desa tersebut harus menempuh jalur alternatif yang jauh lebih sulit, bahkan sebagian hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan khusus.
Kondisi ini menjadi tantangan serius, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan warga yang membutuhkan layanan medis rutin. Cuaca yang belum sepenuhnya stabil juga memperlambat proses pemulihan infrastruktur.
Pemerintah Terus Lakukan Pembukaan Akses
Pemerintah pusat dan daerah terus mengupayakan pembukaan akses jalan yang terputus. Pekerjaan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembersihan material longsor, perbaikan badan jalan, hingga pembangunan jembatan darurat.
Upaya ini melibatkan berbagai pihak, termasuk dinas terkait, BPBD, TNI, dan relawan. Fokus utama saat ini adalah membuka akses dasar agar kendaraan logistik dan ambulans dapat menjangkau desa-desa terisolasi.
Tantangan Medan dan Cuaca
Proses pemulihan infrastruktur di Aceh Tengah tidak mudah. Medan yang berbukit dan rawan longsor menjadi tantangan tersendiri bagi alat berat dan tim teknis. Selain itu, curah hujan yang masih tinggi meningkatkan risiko longsor susulan.
Pemerintah harus memastikan bahwa setiap pembukaan akses dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, baik bagi pekerja maupun warga sekitar.
Harapan Warga pada Percepatan Infrastruktur
Warga desa terdampak berharap pemerintah dapat mempercepat pembangunan kembali jembatan permanen dan perbaikan jalan. Infrastruktur yang pulih menjadi kunci utama untuk mengembalikan kehidupan normal, termasuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Sebagian warga juga berharap adanya solusi jangka panjang, seperti penguatan konstruksi jembatan dan penataan daerah rawan longsor agar bencana serupa tidak terus berulang.
Dampak Sosial dan Ekonomi Berkepanjangan
Keterisolasian yang berlangsung berbulan-bulan berdampak besar pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Pendapatan petani menurun, distribusi hasil bumi terhambat, dan harga kebutuhan pokok di desa terisolasi cenderung lebih tinggi.
Selain itu, anak-anak sekolah di beberapa desa harus belajar dengan keterbatasan fasilitas akibat sulitnya akses guru dan perlengkapan pendidikan.
Perlunya Mitigasi dan Penataan Wilayah
Kasus desa terisolasi di Aceh Tengah kembali menegaskan pentingnya mitigasi bencana dan penataan wilayah. Pembangunan infrastruktur di daerah rawan longsor perlu dirancang dengan standar ketahanan bencana yang lebih kuat.
Penguatan sistem drainase, penanaman kembali kawasan hutan, serta pengawasan tata ruang menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
Penutup
Dua bulan pascabanjir bandang dan longsor, masih terisolasinya 24 desa di Aceh Tengah menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Dengan lebih dari 10 ribu warga terdampak, percepatan pembukaan akses jalan dan pembangunan jembatan menjadi kebutuhan mendesak.
Warga berharap upaya pemulihan dapat segera membuahkan hasil, agar kehidupan sosial dan ekonomi kembali berjalan normal. Sementara itu, kolaborasi lintas sektor dan perencanaan jangka panjang sangat dibutuhkan agar Aceh Tengah lebih tangguh menghadapi bencana di masa mendatang.
Baca Juga : Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Harus Berkualitas dan Inklusif
Cek Juga Artikel Dari Platform : ketapangnews

